Senin, 22 Maret 2010

Terjerat Cinta dan Ambisi Memang enak kalau masih sendiri, tanpa beban, yang dipikirkan hanya kepentingan pribadi. Mau tidur nggak bangun bangun juga nggak ada yang protes, mau foya-foya, wong uang sendiri kok, jadi bebas mau ditabung atau dihabiskan.

Terus teman saya itu berkata,” Tapi lucu juga sih ya, dulu saat kita single, ingin cepat-cepat menikah, punya anak, dll.” Sekarang sudah menikah, punya anak, eeeeh malah ingin jadi single lagi. Saya jawab, “Nah itulah kita, manusia, makhluk tertinggi dan makhluk yang tidak pernah puas.” Mendengar keluh kesahnya saya jadi berpikir soal kehidupan saya.

Memang kalau kita kilas balik, wah enaknya jaman-jaman muda dulu, apalagi jaman sekolah. Pikirannya nggak jauh-jauh dari PR, ulangan dan main sama teman-teman. Sekarang, semuanya berubah setelah kita berkeluarga. Yang tadinya kurang peduli dengan keadaan orang tua, sekarang merasakan susahnya menjadi orang tua. Merasakan susahnya mencari uang, mendidik anak, dan menahan semua keinginan pribadi.

Kadang saya berpikir, wah seandainya bisa memutar balikan waktu, rasanya saya ingin jadi single saja. Saya ingin menggapai cita-cita saya dulu, setelah puas, baru saya berkeluarga, jadi saya bisa memenuhi “my perfect dream”.

Terlebih kalau saya melihat anak-anak muda sekarang yang sedang giat-giatnya meniti karir. Ada rasa iri, mengapa saya tidak bisa seperti itu. Yang ada sekarang, maju kena mundur kena, kalau kata DKI warkop hehe..
Hey, tapi apakah seburuk itukah hidup saya? Saya kembali melihat anak-anak saya, dimata mereka yang penuh keceriaan, dan juga kenakalan2 yang mereka buat, mengingatkan saya kalau inilah hidup yang saya harus jalani sekarang.

Memang tidak seperti yang saya bayangkan waktu saya muda dulu, tapi bagi saya, kehidupan sekarang membuat saya lebih memahami arti kehidupan. Ditengah-tengah kehidupan yang hectic, toh saya masih bisa berkarya. Saya masih bisa mengejar cita-cita saya, perlahan tapi pasti.

Akhirnya setelah saya menelaah kembali apa yang saya perlu lakukan ketika terjerat cinta dan ambisi, saya menyimpulkan harus melakukannya seiring. Dengan CINTA melakukan apapun lebih bergairah, bukan hanya meniti karir, tapi dalam melakukan apapun yang kita sukai, misalnya menulis, memasak, olahraga, menyanyi,dll. Karena saya yakin dengan CINTA, membuat kita lebih berAMBISI untuk berkarya.


EmoticonEmoticon