Selasa, 23 Februari 2010

Di luar sana salju turun lagi bikin malas saja untuk keluar rumah. Inginnya bersih-bersih rumah saja setelah minum kopi di pagi ini. Seperti biasa sambil minum kopi aku buka laptop ku yang ada di ruang bawah sambil ngintip KoKi. Sejak mosi-mosi mati, aku memang tidak pernah duduk lagi didepan PC yang ada di kamar atas, dari itu aku jadi jarang kirim cerita foto buat KoKiKlik, karena semua foto-foto aku simpan di PC. Aku masih suka sedih ingat mosi-mosi biasanya kucingku akan duduk di pangkuanku kalau aku lagi di depan PC atau mosi-mosi akan duduk disamping kaki ku… hiks... masih sakit kalau mengenangnya kadang airmata masih suka menetes. Biar bagaimana mosi sudah seperti anak buatku
Tidak tahu kenapa sambil memangku laptop yang ada dipangkuanku ini, sambil denger lagu yang aku putar aku jadi senyum-senyum mengenang seseorang yang pernah dekat denganku. Yang akhirnya malah aku ketak-ketik menulis cerita ini. Kisah cintaku ini adalah dengan laki-laki Indonesia seorang duda yang ditinggal mati oleh istrinya. Anaknya sudah besar-besar dan sudah menikah semuanya.

Laki-laki ini seorang berbaju hijau berpangkat Kolonel, umurnya lebih tua beberapa tahun dari aku. Kami berdua sempat dekat melakukan hubungan LDR dengan email, SMS, telepon juga ketemuan setahun sekali. Kami juga sudah membicarakan tentang hubungan kami berdua mau bagaimana nantinya, pokoknya sudah bicara masalah yang serius deh.

Dia ingin menjual rumah yang pernah ditempatinya dengan alamarhum istrinya dan akan dibagi untuk anak-anaknya. Dia akan membeli rumah lain lagi yang lebih kecil untuk kami tempati berdua nanti. Karena tidak mungkin kan tinggal di rumah itu jika dia nanti jadi menikah dengan ku. Ya, iyalah masa tidur di kamar bekas dia dengan almarhum istrinya apalagi di ranjang yang sama, jadi semua itu tidak mungkin lagipula aku juga tidak mau kalau sampai seperti itu. Kami memutuskan akan mencari rumah di daerah selatan agar dekat dengan kantornya.

Yang ada dipikiran ku saat itu jika aku menikah dengannya aku memang ingin kembali lagi ke Indonesia dan menetap di Indonesia untuk selamanya. Kalau aku menikah lagi dengan laki-laki Indonesia otomatis aku nanti akan bisa pindah kewarganegaraanku lagi menjadi WNI. Aku sudah bosan dengan kehidupan di Belanda walau semuanya terjamin dan sejahtera tapi hidup ku disini benar –benar monoton, sedangkan aku dari dulu terbiasa dengan kehidupan gemerlap kota Jakarta bersama teman-temanku, sementara aku di Belanda tinggal di kota kecil. Walau aku pernah tinggal delapan tahun di kota Groningen karena sesuatu hal aku harus pindah kota dan pilihanku pindah ke daerah Friesland.

Dia, laki-laki itu sebenarnya pernah dekat dengan beberapa perempuan di Indonesia, bahkan dengan salah satu artis jadul pernah menikah siri katanya, te tapi akhirnya bubar karena artis itu hanya mau morotin uang dia saja sampai habis-habisan dan artis jadul itu ketahuan pacaran lagi dengan laki-laki lain yang lebih muda dari dia katanya. Dia juga sudah sering dijodohkan oleh kerabat atau teman-temannya. Tetapi belum ketemu yang sreg, yang akhirnya dia merasa sreg sama aku katanya... ciele...

Aku sempat dikenalkan dengan teman-teman dan keluarganya. Dan aku sempat melamun membayangkan jika aku jadi menikah dengan dia pasti aku akan ikut kumpulan ibu-ibu Dharma Wanita… weks… serem banget membayangkannya... hahaha… tahu sendiri kan, bagaimana ibu-ibu Dharma Wanita itu? Bukan ”gue banget”!

Karena sudah serius membicarakan hubungan kami berdua jika aku menikah dan menetap dengannya nanti di Indonesia. Aku pun jadi tahu pendapatan gaji dia setiap bulannya yang sempat bikin aku terkejut dan tersedak setelah mendengar gaji bersih dia setiap bulan sebagai seorang Kolonel. Ternyata gajinya setiap bulan hanya cukup untuk membeli celana jeansku satu, yang biasa aku pakai setiap hari.

Maaf, bukan aku menghinanya, hanya aku berfikir kalau gaji seorang Kolonel segitu bagaimana dengan bawahannya? Sanggupkah aku jika tinggal di Indonesia bersamanya dengan uang gajinya itu ? Walau dia juga sebenarnya berwirastawa untuk menambah penghasilannya selama dia hidup dengan almarhum istrinya dulu.

Aku memang mempunyai uang tabungan untuk hari tuaku nanti, tetapi setelah aku pikir baik-baik lagi apakah aku akan meneruskan hubunganku dengan laki-laki itu setelah aku tahu gaji dia tiap bulannya, kok, aku malah jadi ciut untuk memutuskan tinggal dan hidup di Indonesia dengannya.

Bukan karena aku matre lhoo, hanya aku berfikir lagi seandainya dia pensiun nanti pasti penghasilannya akan semakin kecil saja dari gajinya yang sekarang dia dapatkan setiap bulannya. Sedangkan hidup ini tidak cukup dengan modal cinta saja, harus dipikirkan juga masalah ekonomi yang mungkin nanti akan bikin masalah di kemudian hari, apalagi aku bukan tipe perempuan yang bisa hidup sederhana sampai mengirit-ngirit uang belanja setiap bulannya dan yang pasti aku tidak akan bisa berubah dengan gaya hidupku yang suka shopping, ke salon, spa, etc kalau tinggal di Indonesia. Karena akan terbawa lingkungan gaya hidup teman-temanku juga yang suka hang out bareng, yang belum bisa aku ubah sampai saat ini jika aku di Indonesia.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak jadi menetap di Indonesia dan memilih tetap hidup di Belanda selamanya bersama anak-anakku. Dan juga kalau sekarang aku masih ingin menikah dengan orang Indonesia, aku harus membeli laki-laki Indonesia dari pemerintah Indonesia seharga 500 juta… HAHAHA… waaah bisa kaya tuh Negara Indonesia menjual rakyatnya kepada orang Asing... ck... ck... uang yang 500 juta itu mau buat siapa? Mau disimpan dimana uangnya? Kalau orang Belanda bilang sih RUU yang akan dibikin itu Waardeloos!!!


EmoticonEmoticon