Rabu, 20 Januari 2010

Wanita Kosmopolitan Mencari JodohJika ditanyakan acara TV apa yang menarik pada saat ini di Indonesia, saya akan menjawab yang pertama adalah Kasus Bank Century yang disiarkan secara langsung, meski kadang gak mudeng kemana arahnya. Acara lain yang menghibur dan membuat kita tertawa tawa adalah "Take me/him out Indonesia". Lha wong wanitanya cantik cantik punya profesi yang boleh disebut wanita kosmopolitan kok ya bingung cari jodoh. Acara ini konon sudah disiarkan di Spanyol, Belanda dan Jerman, jadi Indonesia adalah negara keempat yang menyiarkan. Banyak hal menarik yang bisa ditelaah dari acara ini, sebelumnya perlu saya declare tidak ada kaitan saya dengan penyelenggara, hanya sekedar pemerhati saja. Bagi yang belum pernah melihat acara ini dapat saya berikan gambaran, setiap sesi tayangan ada 30 orang wanita cantik lajang yang menanti jodohnya diantara 7 pria yang dihadirkan satu persatu. Syaratnya umur 20-40 tahun, lajang tidak terikat pernikahan dan ekspresif.

Jodoh zaman kuda gigit besi ”so simple”
Jodoh adalah persoalan yang sebenarnya dimiliki baik oleh pria maupun wanita single di seluruh belahan dunia yang berniat untuk mencari pasangan hidup, dari zaman kuda gigit besi sampai dunia mau kiamat menurut penanggalan suku Maya. Perlu digaris bawahi yang mencari pasangan hidup, karena hari geneee sudah banyak yang memilih untuk menjadi single and very happy.

Banyak yang menyerahkan jodoh kepada Yang Maha Kuasa, tapi kalau cuma berdiam diri masa iya sih jodoh bisa datang sendiri, harus diupayakan, entah lewat pertemanan, pekerjaan, sosialita. Contohnya kalau mau cari yang relijius yaaa cari teman di kegiatan rohani, teman seperjuangan cari di kampus. Kalau nggak sempat cari saat sekolah/kuliah ya cari di tempat pekerjaan. Gak dapat juga cari lewat fesbuk, bahkan kolom jodoh, jika perlu dicomblangin juga boleh saja.

Jodoh juga sebetulnya bisa dibuat simpel saja seperti di kampung dulu, lik Narti ketemu jodoh dengan kang Parto ketika ban sepedanya bocor, cintanya datang karena jasa nuntun sepeda. Atau bu guru Endang ketemu jodoh dengan pak guru Bedu karena sering rapat guru se-kecamatan, cocok, sehati, setujuan, jadi suami istri, Simpel.

Wanita Kosmopolitan Indonesia
Pada saat ini sesuai dengan perkembangan kemajuan, mencari jodoh tidak sesimpel itu. Wanita Indonesia terutama di kota besar saat ini tidak berbeda dengan wanita kosmopolitan seperti kota besar lain di dunia. Dalam arti cantik menarik, penuh rasa percaya diri, tidak menggantungkan hidup kepada pria. Mandiri dalam arti mampu menghasilkan keuangan sendiri melalui pekerjaan yang memberikan respek, kepuasan, dan pengakuan. Mereka ini merupakan wanita – wanita yang energik, aktif dan turut mengambil bagian ditengah – tengah masyarakat. Ini merupakan salah satu dampak dari pendidikan tinggi dan kesempatan kerja yang semakin luas bagi wanita, bahkan barangkali lebih maju daripada beberapa negara maju. Bagaimana tidak? untuk menjadi presiden wanitapun memungkinkan di Indonesia.

Mari kita kembali ke permasalahan semula, menjadi wanita kosmopolitan itu bagaikan burung yang merdeka mengepakkan sayapnya lebar mengarungi langit luas. Tidak terikat harus mengurus keluarga, berselisih paham, ngomong gak nyambung, bisa nonton pameran seni, musik kapan saja, hangout sepulang kerja dengan rekan tanpa kenal waktu, travelling ke mana saja. Lha kalau sudah mapan menjadi wanita kosmopolitan mengapa kok repot mencari jodoh? Yaaa barangkali lelah juga hidup bebas, atau teman satu persatu sudah menikah, sementara umur bertambah. Atau ”just for fun”, sah sah saja.
Yang menarik dari gambaran yang diberikan pada tayangan tersebut adalah bagaimana para wanita dan pria kosmopolitan ini dalam mencari jodohnya, nah bagaimana tipe yang diinginkan untuk menjadi pasangan mari kita lihat:

Matre:
”Sanggupkah Anda membiayai saya 25 juta (rupiah) sebulan? Saya nggak bisa makan model amigos (agak minggir got sedikit), suka mengenakan baju bagus, mobil bagus” ini gertakan seorang wanita yang berprofesi sebagai model. Cari jodoh kok seperti blantik sapi, pengen segera mencapai break event point, alias balik modal. Lha kalau bangkrut pasti suami tinggal ditendang.

Lugu:
”Apa yang Anda pilih bila bepergian, naik taksi atau bus? Apa alasannya” tanya sang pria. Si wanitapun menjawab: ”Naik bus karena bisa bertemu banyak orang”. Hehehe yang beneur neng....... mestinya bergantung pada sikon (situasi dan kondisi). Maklum yang menjawab masih berstatus mahasiswi.

Seperti yang kumau:
”Saya di sini mencari wanita yang sederhana dan anggun” , begitu pinta pria yang kelihatannya cukup mapan. Alih alih berebut, para wanita yang berharap mendapat jodoh ini malah mematikan semua lampu yang artinya menolak pria ini. Ketika host menanyakan pada wanita terakhir mengapa ia mematikan lampu, maka jawabnya adalah: ”Saya merasa nggak bisa menjadi wanita anggun jadi tidak akan memenuhi syarat yang diminta”. Pria itu di balik panggung menggerutu bahwa para wanita itu rugi karena ia adalah pria yang setia dan penyayang. Iyaaa juga sih anggun itu salah satunya khan nggak boleh kentut sembarangan, mengapa gak dibiarkan saja menjadi diri sendiri, memangnya enak nahan kentut?

Beberapa wanita telah cukup matang, terlihat dari profesi yang dimilikinya, umur di atas tiga puluhan, sangat cerdas. Biasanya penonton akan bertepuk riuh jika merasa bahwa pasangan tersebut sepadan, terutama sudah siap lahir batin. Kalau nggak serius ngapain juga berani tampil di acara yang ditayangkan secara luas seperti itu. Atau sekedar uji nyali?
Pada acara tersebut ada yang berhasil mendapat pasangan, bahwa nanti akhirnya jadi atau tidak yaaa belum tentu bergantung komunikasi selanjutnya. Malunya kalau semua lampu dipadamkan artinya ditolak semua wanita, Cuek sajalah namanya juga entertainment, hehehe.

Menjadi diri sendiri
Kunci pernikahan sebetulnya gampang gampang susah, saling belajar dan mencari kesesuain sepanjang masa. Lha kalau perbedaan yang dicari nggak akan ada habisnya. Contoh simpel saja ketika pada zaman dulu tube pasta gigi terbuat dari bahan timah, mestinya dipencet dari bagian bawah, tapi ada yang mau mudahnya saja dan dipencet dekat tutup, akibatnya anggauta keluarga lainnya akan kerepotan. Coba kalau kita analisis dan mengatakan: ”Dasar egois nggak mikirin orang lain”, bisa bisa masalah sepele merembet ke ”dosa dosa lainnya”. Kalau nggak siap dengan hal hal seperti ini yang terjadi adalah jengkel seumur umur, kalau sudah sangat menumpuk akhirnya pernikahan ujung ujungnya bisa gagal. Inilah yang ditakuti oleh para wanita kosmopolitan. Para wanita ini sudah merasa berada di comfort zone, tidak siap dan tidak mau beranjak dari situ. Mengapa tidak dibiarkan saja setiap pasangan melakukan apa yang diinginkannya asalkan saling bertanggung jawab dalam komitmen pernikahan. Bisa gak yaaaa?


EmoticonEmoticon