Jumat, 22 Januari 2010

Alasan yang Wajar untuk SelingkuhIni bukan kisah manusia-manusia kaya, berpenampilan menarik, dan terkenal, yang membuat iri banyak manusia lainnya namun terjebak sepi, bukan pula kisah kaum intelektual yang menjadi tumpuan namun serakah. Ini kisah tentang para perempuan yang mengais rejeki dan terpaksa berjauhan dengan keluarganya. Mereka datang dari berbagai pelosok daerah di Pulau Jawa ini, kebanyakan berijazah SMP, sebagian SMA, dan sedikit SD.

Usia mereka berkisar antara dua belas hingga dua puluh tiga tahun. Sebagian ada yang sudah diatas tiga puluh tahun, biasanya statusnya janda atau ditinggal minggat suaminya. Mereka menyewa kamar-kamar sempit bersama-sama, satu kamar untuk berdua atau bertiga. Sewa per bulannya antara seratus lima puluh hingga dua ratus lima puluh ribu rupiah.

Setiap pagi, berbondong-bondong mereka keluar dari rumah kontrakannya menuju kawasan pemukiman yang mayoritas manusia dewasanya bekerja dan tak mengasuh anaknya sendiri. Diantara para perempuan pekerja ini, akan tetap berada di satu rumah saja karena bekerja mengasuh anak dari pagi hingga sore. Ada yang beberapa jam saja di sebuah rumah, tugas mereka mencuci, menyetrika, dan membersihkan rumah. Selanjutnya, mereka akan berpindah lagi ke rumah yang lain. Rata-rata, dalam sehari mereka harus bekerja di empat rumah yang berbeda. Yang paling sibuk tentu yang mengerjakan semuanya, dari mengurus anak, hingga tetek bengek pekerjaan rumah.

Selain mereka yang tinggal terpisah dari pemberi pekerjaan, ada juga yang bekerja dan ikut tinggal bersama pemberi pekerjaan. Mereka ini biasanya asisten rumah tangga penuh atau baby sitter.
Sudah hampir kebal telinga saya, mendengar cerita perselingkuhan para perempuan pekerja keras ini. Saya kesal, tapi saya tahu saya harus bisa mengerti. Saya tidak bisa memaksakan apa yang saya pikirkan kepada mereka, karena menurut mereka apa yang mereka lakukan adalah benar adanya. Dan, yang paling membuat saya tidak mampu, ketika mereka berkata itu adalah bagian dari penyemangat hidup mereka.

Namanya Mbak Ning. Perempuan berumur dua puluh tiga tahun. Sudah punya empat orang anak, yang bungsu masih dua tahun. Dia nikah muda karena dijodohkan. Sang suami terpaut usia hampir lima belas tahun. Dia menjadi pengasuh anak seorang kawan saya, baru sekitar satu setengah bulan yang lalu. Dia mengaku telah memiliki Pria Idaman Lain sejumlah empat orang. Yang tiga orang masih orang-orang di lingkungan sekitar, yang satu orang dia kenal karena telpon salah sasaran.

Pernah saya perhatikan ketika menemani Kin kecil bermain di taman, tempat yang biasanya memang dijadikan ajang berkumpul dan bermainnya anak, bagaimana asyiknya Mbak Ning bertelpon ria. Betapa sumringahnya wajahnya, sampai-sampai anak yang dia jaga hampir terkena bola dikepalanya pun ia tak peduli. Awal-awal, saya pikir dia sedang menerima telpon dari suaminya, namun dari bisik-bisik para asisten yang saat itu berkumpul, saya tahu dia sedang memanjakan rasa sepinya.

Suatu hari, keponakan saya yang tinggal bersama saya dan bertugas menemani Kin kecil selama saya ke kantor, menumpahkan keruwetan-keruwetannya mengenai sikap para perempuan yang sudah menikah. Dan saya begitu terhenyak, ketika dia bercerita tentang Mbak Ning. betapa tak dewasanya Mbak Ning melibatkan keponakan saya yang masih tujuh belas tahun dalam perselingkuhannya.

“Budhe, kenapa ya Mbak Ning selingkuh? Waktu aku tanya apa dia tidak kasihan dengan anak-anaknya, dia malah bilang kalau dia kan menikah dijodohkan, jadi anak-anak bukan mutlak tanggung jawab dia.”

Saya tercenung. Saya harus hati-hati menjawab pertanyaan tersebut. Saya tidak bisa bicara mengenai ilusi, mengenai kekompleksan perasaan, dengan bahasa saya, dengan apa adanya. Membuat jawaban yang sederhana ternyata tidak semudah yang saya kira.

“Memang benar dia selingkuh?” Lebih baik menyelidiki dulu, takutnya informasi yang saya ketahui kurang valid.

“Iya, dia cerita sendiri kok. Tadi saja saya dimintai tolong untuk menjawab telpon salah satu pacarnya, untuk bilang dia sedang sibuk ngurus Dafa. Padahal dia mojok telponan sama pacarnya yang lain lagi pake handphone Mbak War.”

Dafa adalah nama anak kawan saya yang diasuh Mbak Ning. Kepala saya cenat-cenut. Mbak Ning ini sudah tidak bisa berpikir rupanya, sampai menyuruh orang lain berbohong untuknya.
“Hmmmm, mungkin Mbak Ning kesepian, jauh dari suami dan anak-anaknya. Mungkin, dia merasa kurang diperhatikan oleh suaminya, makanya dia mencarinya dari orang lain.”

“Kok banyak banget sampai empat?”

“Mungkin, karena empat-empatnya mau sama dia. Atau, ya Mbak Ning nya yang senang pada mereka semua.”

Keponakan saya diam. Saya tahu dia keberatan atas alasan-alasan tersebut.

“Kok berani ya mereka seperti itu?”

Saya kembali terhenyak.

“Mereka itu siapa?”

“Ya, mbak-mbak itu, yang pada kerja di kompleks sini. Selingkuhannya tidak Cuma satu lho, Budhe. Katanya, selingkuh itu wajar buat mereka, soalnya jauh dari pacar atau suami.”
“Oh ya?”

Sejujurnya saya sangat terkejut dengan informasi dari keponakan saya tersebut, karena saya kira yang seperti Mbak Ning hanya segelintir dari mereka. Saya mencoba tetap bersikap tenang. Saya ingin keponakan saya bisa menumpahkan semua, agar tak ada lagi kebingungan-kebingungan yang berujung pada keinginannya ikut mengalami sendiri sebagai proses pemahaman.

“Ya, menurut mereka asal tidak macam-macam tidak apa-apa. Paling kan mereka hanya saling sms, saling telpon, kalau toh ketemu jarang sekali.”

“Menurutmu sendiri?”

Keponakan saya sempat menatap saya sekilas, sebelum menjawab.

“Kalau saya takut, Budhe. Saya masih percaya hukum karma. Apalagi, pernikahan kan kalau bisa sekali saja. Ya masak mau dibubarkan karena selingkuh.”

Saya tersenyum. Mungkin, saya terlalu ketakutan pada ‘kebeliaannya’. Usia tujuh belas masihlah usia yang sangat rentan untuk dipengaruhi. Syukurlah bila ia masih mampu menimbang setiap hal dengan hati dan pikirannya.

Obrolan kami masih berlanjut. Keponakan saya yang lebih banyak bicara, mengenai tingkah polah para asisten dan baby sitter yang dengan mudahnya mengobral kisah perselingkuhan mereka.

“Apakah mereka menyesal telah berselingkuh?” Saya tak tahan untuk tidak bertanya.

“Sepertinya tidak, lha wong mereka bilang mereka senang dan jadi lebih bersemangat bekerja.”

Duh. Rasanya ada yang bersliweran di kepala, begitu cepat, begitu tak terpegang.

Saya jadi ingat percakapan Yasmin dan Shakuntala dalam Saman dan Larung yang ditulis Ayu Utami. Yasmin dan Shakuntala, adalah dua diantara empat tokoh perempuan yang diceritakan bersahabat. Yasmin dan Shakuntala sedang membahas mengenai salah seorang sahabat mereka, Laila, yang mencintai Sihar, berstatus suami orang. Menurut Yasmin, Sihar tidak mencintai Laila, tapi hanya memanfaatkan. Itu sebabnya, Laila harus mau berpisah dari Sihar, dan harus mau melupakan Sihar. Shakuntala tidak sependapat, diakhir perdebatan mereka, Shakuntala membuat pernyataan yang membuat Yasmin terdiam, intinya akankah Yasmin tega merenggut ilusi yang membahagiakan Laila. Padahal, Laila yang paling banyak masalah diantara mereka berempat, dan belum menikah sesuai harapannya.
Ah, saya pun tak akan bisa, tak akan tega, merenggut kebahagiaan para perempuan pekerja keras ini, jika memang kebahagiaan mereka adalah dengan memiliki orang-orang yang dicintainya. Meski secara norma dan agama itu akan dianggap salah. Saya tentu tak tahu banyak tentang hidup mereka, bagaimana percintaan mereka, bagaimana mereka diperlakukan, bahagiakah mereka, puaskah mereka. Yang saya tahu, setiap pagi mereka menebar senyum manisnya, menyapa “Selamat pagi, Bu”, segera meraih sapu atau segepok cucian diember, atau mengajak anak majikan mereka bermain. Dan, mereka melakukannya tanpa mengeluh, setidaknya, dihadapan para majikan.

Adakah jiwa mereka sebenarnya menjerit, ketika rindu dan hasrat berkumpul bersama keluarga harus terenggut oleh kerasnya gilasan jaman? Dan pelarian mereka....ah, menjadi wajar, meminta sedikit pengertian, bahwa tidak mudah menjadi mereka. Ya, memang tidak mudah menjadi mereka. Untuk mereka, mungkin, selalu ada alasan yang wajar untuk selingkuh. Karena dengan menganggap itu wajar, lebih tercerahkan hati mereka, dan bara semangat untuk bekerja tetap menyala.


EmoticonEmoticon