Selasa, 02 November 2010

Semat Harap dalam Sehelai UlosApa arti seulas kain bagi Anda? Bisa jadi hanya sekadar penutup aurat atau sebagai penghangat tubuh. Jika mau menilik sejenak, bagi leluhur kita, secarik kain bisa memiliki banyak arti. Masyarakat Tapanuli Utara, misalnya, yang menggunakan sehelai ulos sebagai perlambang kasih dan semat harap di setiap peristiwa dalam kehidupan. Menurut majalah Mahligai, ulos dikenal oleh masyarakat Batak sejak abad ke-14, seiring masuknya alat tenun tangan dari Indoa. Umumnya, panjang ulos mencapai 2 meter dengan lebar 70 cm.

Pada zamannya, ulos digunakan untuk pakaian sehari-hari. Namun, pada acara-acara tertentu, ulos menjadi semacam perantara pemberi berkat dari orang yang dihormati kepada yang lebih muda, acara pemberiannya dinamakan mangulosi. Ibu Martha, pendiri Martha Ulos, sebuah wedding organizer khusus adat Batak dan pengembang ulos di Jakarta mengatakan kepada Kompas Female, "Selain kembangin tenun, paket prosesi pernikahan batak, harapan saya mendirikan Martha Ulos supaya anak muda tidak takut untuk mau memasyarakatkan budaya. Sebetulnya mengenal ulos itu tak sulit dan tidak berlawanan dengan agama. Leluhur kita punya ide yang baik sekali. Di suku mana pun tidak ada yang menggunakan secarik kain seperti ini. Sebenarnya ulos itu adalah perlambang kasih sayang. Misal, pada sehelai ulos ini (yang diberikan saat pernikahan), orangtua memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar anaknya diberi keturunan, harapan agar hidup damai dan rukun sampai akhir hidup, tidak diceraikan oleh manusia, sehat, panjang umur, dan lainnya. Nenek moyang kita sudah memikirkan hal-hal semacam ini sejak dulu."

Ada banyak jenis ulos seperti berikut:

* Ulos Ragidup. Sebagai perlambang kehidupan, ulos ini memiliki derajat tertinggi. Pembuatannya pun tergolong sulit, warna, motif, dan coraknya memberi kesan meriah dan "hidup". Digunakan pula sebagai perlambang doa restu untuk kebahagiaan dalam hidup. Biasa diberikan dari orangtua pengantin perempuan kepada ibu pengantin laki-laki dengan makna agar si penerima bisa menerima si menantu wanita. Umumnya, ulos ini dipajang di dinding rumah.

* Ulos Jugia (Naso ra pipot). Biasanya dimiliki oleh orang yang sudah memiliki cucu anak lelaki dan anak perempuannya. Aturan untuk memiliki ulos ini cukup banyak, sehingga jarang orang yang memiliki ulos ini.

* Ulos Ragihotang. Ulos ini merupakan simbol pada pernikahan Batak. Biasa pula disebut dengan ulos hela. Diselimutkan oleh orangtua mempelai wanita kepada kedua mempelai pada saat upacara berlangsung. Disampirkan di pundak kedua mempelai, kemudian disatukan di tengah, di depan mempelai. Makna dari hotang (rotan) adalah agar kedua mempelai memiliki ikatan pernikahan yang kuat dan tidak mudah dipatahkan.

* Ulos Mangiring. Ulos inilah yang biasa digunakan sehari-hari. Ada pula yang digunakan sebagai tali-tali (tutup kepala kaum pria) dan saong (tutup kepala wanita). Biasanya ulos ini diberikan oleh orang yang dituakan kepada cucu-cucunya.

* Ulos Lobu-lobu (Giun Hinar-haran). Ulos ini tergolong jarang dikenal. Biasanya hanya digunakan oleh mereka yang dirundung kemalangan, karenanya tidak diperdagangkan. Zaman dulu, ulos ini diberikan kepada anak perempuannya yang sedang hamil supaya kelahiran berjalan lancar.

* Ulos Abit Godang. Harapan orangtua agar anaknya berlimpah sukacita dan kebajikan disemat pada ulos yang harganya cukup tinggi ini. Konon, kain ini memiliki tempat terhormat di mata masyarakat Batak-Toba.

* Ulos Bintang Maratur. Menggambarkan jejeran bintang teratur. Sebagai perlambang sikap patuh, rukun, dan kekeluargaan. Termasuk dalam hal kekayaan dan kekuasaan, tidak ada kesenjangan yang timpang dan berada dalam tingkat setara.

* Ulos Runjat. Biasanya hanya dimiliki mereka yang memiliki status tinggi di masyarakat. Hanya digunakan pada acara-acara khusus. Bisa pula diberikan pada acara pesta.

* Ragi Pakko. Biasanya digunakan sebagai selimut.

* Tumtuman/Edang-edang. Dipakai sebagai tali-tali dan anak yang pertama dari pemangku hajat.

* Sibolang rasta. Biasa digunakan untuk keperluan duka dan suka cita. Namun, warna hitamnya lebih banyak digunakan sebagai perlambang kedukaan.

Masih banyak lagi jenis ulos dan maknanya. Sayangnya, kriya nusantara semacam ini belum banyak diwartakan dan diperkenalkan kepada masyarakat. Menurut Ibu Martha, "Anak muda sekarang mungkin kurang tertarik karena tak tahu banyak tentang ulos, makna, dan keindahannya. Biasanya hanya jenis kain Indonesia tertentu saja yang dikenal. Mungkin juga mereka tak tertarik karena sudah takut duluan. Bisa takut karena ulos juga dikenakan pada hari kematian. Belum lagi, bahannya yang kasar dan panas, jadi jarang dilirik."


EmoticonEmoticon