Merawat dan Memperkaya Cinta Suami Isteri

suami istriAwal menikah atau ketika sedang jatuh cinta pasangan acapkali merasa cintanya akan terus menggairahkan. Perkawinan sekalipun diawali dengan cinta yang menggebu bukanlah merupakan jaminan bahwa cinta tersebut tidak akan pudar, cinta seringkali mengalami pasang surut, terlebih lagi untuk jangka panjang dan melalui berbagai pergumulan.

Dalam menjalani kehidupan keluarga ada beragam persoalan dan berbagai alasan yang bisa menimbulkan gesekan ataupun benturan yang mudah memudarkan serta merusak cinta. Tanpa pemeliharaan yang telaten cinta suami istri mudah sirna, dan tidak lagi melatar belakangi kehidupan berdua. Jangan tunggu sampai meredup, sejak awal perkawinan, cinta perlu dirawat, dijaga agar tetap hangat, mesra, menarik dan terasa menyenangkan bagi keduanya. Keluarga yang diwarnai dengan hubungan suami istri yang penuh cinta kasih akan menciptakan suasana yang hangat dan akrab dan kasih sayang suami istri akan dirasakan serta ditularkan ke anak-anak dan seluruh anggota keluarga. Memelihara, merawat cinta perlu dilakukan sejak awal perkawinan dan menjadi prioritas agar cinta suami istri dapat terus bertumbuh serta senantiasa diperkaya.


Pernikahan yang sukses merupakan usaha dan hasil kerjasama dari dua orang yang berusaha merawat cinta mereka berdua tetap bergairah.

Cinta

Beberapa ahli psikologi meyakini bahwa cinta merupakan emosi paling utama yang mendasari berbagai nuansa emosi lainnya. Ada berbagai definisi atau pengertian yang bisa dikemukakan apabila pada seseorang ditanyakan apa arti cinta. Ada pula berbagai bentuk dan manifestasi cinta. Konsep tradisional dari cinta dikemukakan oleh filosof Irving Singer dengan 4 macam cinta yaitu eros (cinta keindahan yang sifatnya fisik), philia (cinta pertemanan), nomos (submisif & kepatuhan) dan agape (cinta spiritual, tidak mementingkan diri sendiri). Lee (1973) mengemukakan 6 gaya cinta yaitu eros (cinta erotis yang mengutamakan daya tarik fisik), ludus (cinta sebagai permainan / game), Storge (cinta yang didasari pertemanan), Pragma (mencintai seseorang karena sesuai dengan kebutuhan), Mania (cinta yang ditandai dengan emosi yang naik turun dalam ketergantungan satu dengan yang lain), Agape (cinta spiritual yang mementingkan orang lain). Cinta romantis sebagai bagian dari pernikahan, baru dibicarakan dan dikembangkan di abad-abad akhir, ketika pernikahan menjadi pilihan pribadi, sekalipun sebenarnya literatur Cina sudah mencatat hal tersebut ribuan tahun yang lalu.

Suami istri mencintai pasangannya tidak selalu dengan gaya, ekspresi, ataupun porsi yang sama. Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving menggambarkan bahwa cinta adalah sebuah seni yang harus dipelajari, dipraktekkan dan terus diasah. Berarti cinta tidak berkembang dengan sendirinya, perlu usaha untuk memelihara dan menjaganya. Cinta membuat pasangan merasa dekat, terikat dan saling memiliki, sehingga bisa membuka diri sampai taraf yang paling intim.

Robert Sternberg, seorang psikolog dari Yale University melakukan penelitian tentang cinta romantis dan mengemukakan teori segitiga cinta yang memungkinkan dipahami adanya dinamika serta model atau kualitas cinta yang berbeda-beda, bergantung dari kombinasi ada tidaknya, ataupun besar kecilnya komponen cinta yaitu Gairah (passion), Keintiman (intimacy) dan Komitmen (commitment). Kombinasi ini bisa berbeda pada waktu yang berbeda dalam hubungan cinta yang sama.

Gairah

Komponen gairah merujuk pada romantisme dan daya tarik, merupakan getaran perasaan yang mendorong seseorang untuk bercinta, bersifat sensual dan seksual. Gairah ditandai oleh rangsangan fisik dan kerinduan yang besar akan kasih sayang yang dinyatakan secara fisik. Perasaan senang dan bahagia ketika bisa berdekatan, ataupun bersentuhan secara fisik merupakan sisi gairah cinta.

Komitmen

Merupakan sisi kognitif dari cinta. Terdiri dari dua bagian yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek adalah keputusan untuk mencintai seseorang (mungkin tanpa disadari). Jangka panjang adalah keputusan untuk mempertahankan dan merawat cinta dengan orang tersebut. dalam perkawinan hingga akhir hidup. Komitmen untuk mempertahankan perkawinan, memungkinkan suami istri tetap setia dan bertahan berjalan bersama serta mampu mengatasi masa-masa ketika gairah cinta mulai menurun.

Keintiman

Sisi emosional dari cinta adalah keintiman, kedekatan bukan saja secara fisik tetapi juga kedekatan hati. Kedekatan yang memungkinkan seseorang berani membuka diri, mempercayakan hal-hal pribadinya kepada orang yang dicintai. Ada perasaan percaya karena diterima apa adanya sehingga seseorang tidak merasa perlu merahasiakan sesuatu. Tanpa perawatan dan pemeliharaan yang sungguh-sungguh keintiman sulit dicapai, sebab dibutuhkan pengenalan, pemahaman, kepekaan, empati dari pasangannya untuk seseorang bisa membuka diri. Dengan keintiman, suami istri dapat menyatu sebagai ”satu daging” dan masing-masing akan merasa saling memiliki.

Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. (Effesus 5:31)

Beberapa tanda keintiman adalah :
Senang dan ingin pasangannya juga merasa bahagia
Merasa bahagia ketika ada bersama
Senang berdekatan, bersentuhan atau berpegangan tangan
Mudah saling paham (........ hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Filipi 2 : 2)
Merasa mendapat dan suka memberi dukungan emosional dari / ke pasangan
Menghargai kehadiran dan keberadaan pasangan.

Macam-macam cinta berdasarkan ada tidaknya tiga komponen cinta :
Suka - keintiman
Cinta romantis - keintiman & gairah
Cinta berahi - gairah
Cinta dangkal - gairah & komitmen
Cinta persahabatan - keintiman & komitmen
Cinta sejati - keintiman, gairah & komitmen

Dengan memahami komponen segitiga cinta dengan unsur-unsur yang tidak selalu seimbang maka akan ada berbagai bentuk cinta. Cinta dalam pernikahan selayaknya adalah cinta sejati dibangun berdasarkan ketiga komponen tersebut dengan kombinasi yang seimbang. Namun perlu dipahami segitiga cinta suami istri belum tentu memiliki sisi sama besar. Mungkin saja sisi gairah suami lebih besar daripada istri dan sebaliknya istri memiliki sisi komitmen yang lebih besar. Bagaimana cinta yang diberikan dan diterima juga sangat tergantung dari bagaimana setiap pribadi memaknainya.

Dalam perjalanan kehidupan pernikahan, model cinta tidak selamanya sama, bisa berubah-ubah bentuk dan manifestasinya. Ada saat-saat dimana bagi salah satu pasangan sisi tertentu lebih kuat dibandingkan yang lain. Ada tahap2 cinta yang bisa dirasakan berbeda pada masa-masa tertentu.

1. Romantisme

Tahap awal pernikahan dengan cinta kasih yang masih menggelora, masing-masing memuja dan mengagumi pasangannya. Dalam tahap ini suami istri menikmati peralihan kehidupan lajang masuk dalam kehidupan berdua, merasa saling memiliki dan menikmati kebahagiaan bersama

2. Pergumulan

Dengan berjalannya waktu dengan tugas serta perannya masing-masing, muncul ketidak serasian dalam membangun kehidupan bersama. Suami istri akan belajar saling menyesuaikan diri dan untuk berhasil dibutuhkan toleransi tinggi, saling mengalah, saling tolong dengan cinta dan cara yang semakin dewasa. Penyesuaian diri dalam banyak hal akan menjadi pergumulan pribadi suami atau istri agar menjadi makin selaras.

3. Kerja sama

Bertumbuhnya saling pengertian dan pemahaman baik dari sisi kognitif maupun emosi, memungkinkan suami istri bekerja sama. Masing-masing menyadari bahwa keduanya berbeda dan merupakan pribadi yang utuh namun bersama-sama dan saling bertolongan membangun sebuah keluarga. Dengan mengenali dan memahami diri pribadi, suami atau istri akan lebih mudah memahami dan menerima pasangannya. Perbedaan yang ada dimanfaatkan untuk saling melengkapi dan saling mendukung.

4. Kebersamaan

Setelah kerjasama berlangsung dengan baik, dan saling menerima pasangan dengan segala kelebihan maupun kekurangannya, keintiman suami istri semakin bertumbuh. Rasa saling memiliki dan menyatu menimbulkan perasaan aman dan nyaman. Kebersamaan yang terjalin akan terasa semakin dekat dan akrab.

5.Kreativitas bersama

Pernikahan yang telah berlangsung cukup lama dengan ’selesainya’ berbagai tugas suami istri maupun tugas sebagai orang tua dengan melewati berbagai pergumulan suka dan duka, kedekatan dan keintiman menjadi semakin terasa. Perhatian yang lebih terhadap pasangan dan bersama-sama berkreasi untuk berbagai kegiatan atau hobby akan mewarnai kehidupan berdua, jika tahapan-tahapan cinta dilalui dengan hubungan dan pemahaman yang semakin baik.

Merawat cinta suami istri

Les Parrot menggambarkan pernikahan bagaikan tarian cinta. Suami istri mengawalinya dengan kecanggungan menyeret kaki, tersandung, bahkan menginjak kaki pasangannya. Apabila mereka bertahan, berlatih terus untuk menjadi semakin selaras dalam gerak dan laku maka saat-saat sulit tetap dirasakan keindahannya bila kedua pihak pada akhirnya mengalami irama yang sama dalam gairah, keintiman dan komitmen..

Tanaman membutuhkan perawatan yang serius untuk tumbuh subur dan bisa berkembang atau berbuah dengan baik. Ia perlu disiram, dipupuk, mungkin harus diganti media tanamnya atau terkadang perlu dipindahkan ke tempat yang lebih cocok udara dan sinar mataharinya, atau mungkin ada semak dan benalu yang perlu dipangkas, dicabut agar pertumbuhan tanaman tersebut tidak terganggu.

Demikian pula dengan cinta, bahkan dibutuhkan upaya yang lebih lagi untuk merawat cinta suami istri. Cinta perlu disiram dengan perhatian, saling menghargai dan memuji, kerendahan hati, juga dipupuk dengan pemahaman, toleransi, persediaan maaf yang tidak ada habisnya, niat untuk menolong, serta diberi wadah yang mempesona melalui surprise yang membahagiakan pasangan. Hal-hal yang mengganggu perlu dipangkas seperti misalnya, kata-kata dan perilaku yang saling menyakitkan, kemarahan yang tidak pada tempatnya agar cinta tetap terasa menggairahkan, bertumbuh dan berbuah. Untuk itu dibutuhkan kecerdasan emosi dari suami istri agar bisa mengenali perasaan diri, mengelola emosi, mampu memotivasi diri dan pasangan, serta memahami dan menjalin relasi yang membangun.

Ada berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam merawat cinta suami isteri

Menikah dengan alasan yang sehat
Ada berbagai alasan menikah, merawat cinta suami isteri perlu diawali dengan alasan yang sehat untuk menikah yaitu,
merupakan ekspresi dari cinta & persahabatan
keinginan untuk membangun keluarga
memenuhi kebutuhan fisik, sosial & ekonomi
hidup berbagi dengan pasangan
bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan satu sama lain
mengoptimalkan potensi
meningkatkan pertumbuhan rohani

Kesetaraan otoritas

Dalam keluarga Kristen suami adalah kepala keluarga dan pemimpin, namun suami bukanlah pemimpin yang otoriter. Suami istri adalah mitra, pasangan yang sepadan dalam menjalankan peran sebagai suami istri dan orang tua ataupun peran lain dalam lingkup kehidupan keluarga. Kalaupun masing-masing mempunyai kelebihan maka kelebihan tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan berdua, saling mengisi dan mendukung keluarga.

Mengenal pasangan

Hidup bersama di bawah satu atap bukan jaminan untuk bisa mengenal dan memahami pasangan secara baik. Mungkin kita merasa mengenal pasangan dengan baik, tetapi tidak jarang ada banyak hal yang kita tidak / kurang kenal dan tidak paham mengenai pasangan kita. Dibutuhkan kemauan, usaha, saling terbuka dan komunikasi yang efektif untuk suami istri mengenal dan memahami pasangannya.

Mengenal dan mahami suami sebagai laki-laki / istri sebagai perempuan

Konflik dan ketegangan seringkali terjadi karena suami istri sering tidak saling memahami dan kurang mempertimbangkan fakta bahwa laki laki dan perempuan berbeda karakteristik dalam cara berpikir, bertindak, dan juga cara memandang lingkungannya.

Laki-laki Perempuan
> Mengandalkan logika - Mengandalkan perasaan
> Fokus pada prinsip utama - Fokus pada detil
> Fokus pada satu hal - Mengerjakan beberapa hal sekaligus
> Pekerjaan - bagian diri - Keluarga – bagian diri
> Cenderung stabil - Mudah berubah-ubah

Hal-hal yang menjadi kebutuhan utama laki-laki dan perempuan juga berbeda:

Laki-laki Perempuan
> Seks - Kasih Sayang
> Rekreasi - Komunikasi & percakapan
> Wanita yang menarik - Kejujuran & keterbukaan
> Dukungan keluarga - Dukungan keuangan
> Dikagumi – dihormati - Komitmen terhadap keluarga

Kesempatan mengoptimalkan potensi dan pertumbuhan rohani..
Pernikahan yang bahagia adalah jika suami atau istri dapat mengembangkan potensi-potensi yang mereka miliki dengan saling bertolongan. Ikatan pernikahan memberikan lingkungan yang ideal di mana suami dan istri dapat mengekspresikan serta mengaktualisasikan potensi dan kemampuan yang mereka miliki. Suami istri saling mendukung, berdoa, menghibur dan menguatkan, dalam mendorong kehidupan rohani untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Bersama-sama mereka berdoa, menyembah, membaca dan mendiskusikan firman Tuhan, menjadi dasar kehidupan yang akan sangat menolong suami istri dalam usaha mereka merawat cinta berdua dan keluarga.

Mengatasi konflik

Konflik-konflik yang terjadi dalam hubungan suami istri sebenarnya merupakan bagian dari proses harmonisasi. Tidak ada pernikahan yang bebas konflik, yang penting adalah bukan ada atau tidak adanya konflik ataupun pertengkaran yang terjadi dalam hubungan suami istri. konflik. Ada 4 cara berkonflik yang harus dihindari karena membuat hubungan menjadi buruk yaitu, mengkritik dan merendahkan, menghina, membela diri dan membisu.

Berkonflik / bertengkar dengan baik :
Jangan lari dari pertengkaran, perselisihan harus dihadapi dan diselesaikan. Pertengkaran yang tidak diselesaikan akan berkembang bagaikan api dalam sekam.
Hindari atau berhati-hatilah memasuki ’wilayah peka’ pasangan.
Usahakan menyampaikan masalah dengan jelas.
Nyatakan perasaan diri secara langsung (Gunakan bahasa ”saya” bukan kamu).
Konflik memberikan kesempatan suami istri untuk lebih saling mengenal pasangannya.

Komunikasi

Komunikasi adalah penyampaian atau pertukaran informasi. Komunikasi yang berhasil adalah bila informasi yang disampaikan diterima dan memberi pengertian sebagaimana yang dimaksudkan. Dalam perkawinan, sekalipun suami istri berkomunikasi setiap hari belum tentu komunikasi yang terjadi adalah komunikasi yang berkualitas untuk membangun keintiman dan memelihara cinta. Komunikasi bukan sekedar percakapan verbal, unsur non verbal seperti gerak isyarat, ekspresi muka, bahasa tubuh, nada bicara, memainkan peranan yang bahkan lebih besar daripada kata-kata yang diucapkan. Untuk memahami tidak cukup hanya mendengar apa yang diucapkan tetapi perlu mendengarkan, dengan memberi perhatian penuh, menaruh minat tulus akan apa yang dikatakan dan keinginan untuk mengerti. Suami istri perlu menghindari cara berkomunikasi yang bisa menjadi sumbatan, menimbulkan perasaan enggan untuk berkomunikasi.

Kualitas komunikasi :
Basa basi
Menyampaikan fakta atau informasi
Mengekspresikan ide dan pendapat
Berbagi perasaan
Berbagi perasaan dan keadaan pribadi dengan keterbukaan serta kejujuran
Berbagi kehidupan keimanan

Ada banyak hal yang perlu dicermati suami istri dalam menjalani kehidupan perkawinan, yang tak bisa diabaikan adalah merawat dan memperkaya cinta, KOMUNIKASI akan menolong keduanya menjadi pasangan yang harmonis.

K esediaan menjadi pendengar yang sungguh dan tulus
O lah informasi dengan kerangka berpikir positif
M embuka diri akan memudahkan suami istri mengenal pasangannya
U sahakan berkomunikasi sampai taraf perasaan
N iat yang baik perlu disampaikan secara baik pula terhadap pasangan
I mani bahwa pasangan yang terbaik
K erahkan segala daya untuk memelihara & merawat cinta
A jak pasangan untuk sama-sama bertumbuh
S erahkan segala masalah kepada Tuhan
I jinkan Tuhan ikut campur tangan dalam kehidupan keluarga

Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.




0 comments:

Poskan Komentar

Merawat dan Memperkaya Cinta Suami Isteri